Banyak orang sebenarnya sudah kepikiran mau usaha. Ide ada, niat ada, bahkan waktu juga siap. Tapi selalu mentok di satu hal yang sama: modal. Bukan karena nggak punya sama sekali, tapi karena jumlahnya mepet. Di titik ini, franchise sering kelihatan sebagai jalan tengah, nggak perlu bangun brand dari nol, tapi tetap bisa mulai usaha sendiri.
Belakangan, makin banyak franchise yang pasang harga di bawah Rp5 juta. Targetnya untuk orang-orang yang pengin mulai usaha kecil dulu, cepat jalan, dan berharap modalnya bisa balik dalam waktu relatif singkat.
Dengan Modal 5 Juta, Ekspektasinya Harus Realistis
Kalau modalnya sekitar Rp5 juta, yang dicari bukan usaha besar. Fokusnya biasanya ke yang simpel, gampang dijalankan, dan produknya sudah familiar di masyarakat. Makanya, makanan ringan dan minuman masih jadi pilihan paling masuk akal. Harganya terjangkau, pasarnya luas, dan kalau lokasinya oke, perputaran uangnya bisa cepat.
Franchise juga biasanya sudah menyiapkan gambaran kasar soal penjualan dan potensi laba. Bukan jaminan pasti untung, tapi cukup membantu buat orang yang baru pertama kali terjun.
Kenapa Franchise Jajanan Masih Jadi Favorit
Nama-nama seperti Candy Crepes sering dilirik karena produknya sudah dikenal anak muda dan konsep jualannya nggak ribet. Dengan paket modal sekitar Rp4 jutaan, mitra sudah bisa mulai jualan dengan booth dan perlengkapan dasar. Kalau jualannya konsisten, modal awalnya relatif cepat ketutup.
Ada juga konsep yang lebih fleksibel seperti Yago Chicken, yang nggak selalu mengharuskan booth fisik. Model virtual franchise ini cocok buat yang mau menekan biaya awal. Marginnya jelas, walau tetap perlu hitung tambahan alat dan bahan.
Tahu Mafia main di segmen yang beda. Pembelinya biasanya loyal, terutama pecinta pedas. Perhitungannya lebih konservatif, tapi justru terasa realistis buat pemula yang nggak mau terlalu spekulatif.
Sementara itu, minuman seperti Aku Cendol Kamu dan Es Teh Nusantara kelihatannya sederhana, tapi justru itu kekuatannya. Harga jual murah bikin pembelian berulang lebih mudah. Kalau ramai, arus kas bisa cepat muter asal lokasi dan jam jualannya tepat.
Cepat Balik Modal Itu Soal Konsistensi, Bukan Cuma Brand
Franchise memang membantu, tapi bukan sulap. Cepat balik modal tetap butuh konsistensi jualan, lokasi yang masuk akal, dan kesiapan buat turun langsung. Brand cuma pembuka jalan, sisanya tetap soal eksekusi.
Dan di sinilah biasanya muncul dilema klasik: sudah nemu franchise yang cocok, tapi modalnya kurang sedikit. Selisihnya nggak besar, tapi cukup bikin rencana tertunda.
Saat Modal Kurang Sedikit, Kredit Cepat Jadi Pertimbangan
Di kondisi seperti ini, banyak orang mulai melirik kredit cepat. Bukan buat konsumsi, tapi buat nutup kebutuhan awal usaha, entah itu join fee, beli bahan baku pertama, atau sewa tempat kecil. Selama perhitungannya jelas dan cicilannya masih masuk akal, opsi ini sering terasa lebih realistis daripada nunggu modal terkumpul lama.
Yang penting, kreditnya dipakai buat hal produktif dan tenornya disesuaikan sama kemampuan usaha di awal.
Kredivo sebagai Opsi Pendanaan yang Lebih Fleksibel
Di titik ini, Kredivo jadi salah satu opsi yang cukup relevan. Banyak orang kenal Kredivo sebagai layanan belanja sekarang, bayar nanti, tapi sebenarnya fleksibilitasnya lebih luas dari itu. Dengan limit hingga Rp50 juta untuk akun Premium, Kredivo bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk persiapan usaha franchise.
Skema bayarnya juga bisa disesuaikan. Kamu bisa pilih bayar bulan depan, atau cicilan 3, 6, 9, 12, 18, sampai 24 bulan tanpa DP. Untuk tenor tertentu, ada juga bunga 0%, yang jelas lebih ringan buat arus kas usaha di awal.
Kalau dipakai dengan perhitungan matang, kredit cepat lewat Kredivo bisa jadi jembatan supaya usaha nggak cuma berhenti di rencana. Bukan buat nekat, tapi buat bantu usaha mulai jalan lebih cepat tanpa bikin keuangan langsung ketarik habis.
Mulai Kecil, Tapi Jangan Asal Jalan
Modal Rp5 juta memang bukan angka besar, tapi cukup buat mulai kalau strateginya tepat. Franchise bisa jadi pintu masuk, pendanaan yang fleksibel bisa jadi penopang, tapi keputusan tetap harus realistis. Hitung, sesuaikan, lalu jalan pelan tapi konsisten.